Kamis, 23 Januari 2014

Pesan dari Novel dan Film " Tenggelamnya Kapal Ven Der Wijck "



Apa yang membuat seorang Ulama sekelas HAMKA menulis cerita atau membuat karya karya percintaan ?

Kita semua pasti tau ada banyak karya Hamka yang bernuansa percintaan, disamping buku di atas, (misalnya) Dibawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke deli, dan lain sebagainya.
Orang mungkin bertanya-tanya, Kenapa seorang ulama seperti Hamka kok nulisnya karya-karya percintaan?. Ini juga yang pernah terbersit dalam hati saya, apa motivasi Hamka menulis novel ? Apakah itu adalah bentuk pengalaman pribadinya atau hanya sekedar ekspresi jiwa sastranya ?.

Mari kita lihat sedikit saja pesan yang ada dalam film “Tenggelamnya kapal Van Der Wijck“.
Pertama, bagaimana seorang Zainuddin bisa bangkit dari keterpurukan saat cintanya kepada hayati harus terkubur oleh kejamnya aturan ADAT di kala itu....


Disinilah hamka mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan cinta saat harus kandas. Zaunuddin, dengan hati yang terluka, mampu membuat puisi-puisi cinta yang mewarnai media-media terkemuka sehingga namanya terkenal di seantoro nusantara dengan sebutan Mr. Z. Saat cintanya tertolak, ia tidak lantas terjerumus ke dunia kelam, mabuk-mabukan, dan perbuatan negatif lainnya. Ia tidak seperti kebanyak anak muda ketika itu yang sering terjerumus kedalam lembah dosa saat cintanya di tolak. Maka, hanya cinta sucilah yang akan melahirkan maha karya. CINTA SEJATILAH yang mengajarkan untuk SETIA, dan menyadarkannya bahwa cinta tidak harus memiliki. Karena persoalan memilki adalah TAKDIR dari yang MAHA MEMILIKI

Kedua, hamka ingin mengkritik adat atau budaya yang kadang tidak manusiawi. Pertimbangan agama kadang harus tunduk di bawah keangkuhan adat. Bahkan orang tua melihat calon menantunya bukan dari aspek agamanya, tapi lebih kepada harta dan jabatannya. Itulah yang menimpa sepasang kekasih, antara Zainuddin dan Hayati….

nah Jika dulu terhalang oleh keangkuhan adat dan orang tua, bagaimana dengan sekarang ?
yang aku tau dan hampir setiap waktu melihat dan merasakan, nilai cinta sudah sangat jelas berrgeser atau di geserkan pelaku cinta itu sendiri oleh hal hal yang bersifat keduniaan, bahkan sudah seperti memasang harga yang di bungkus dengan kalimat manis yaitu " KRITERIA CALON IMAMKU " huhuhu... kenapa siiih...takut ngga makan khawatir ngga bahagia...Hmmmm...