Selasa, 05 Agustus 2014

TERMINOLOGI CINTA DALAM AL-QUR’AN



Al Qur'an menelisik terminologi kata cinta dalam Al Qur'an, sinonim kata yang menunjuk pada kata cinta dalam al Al-Qur’an cukup beragam, kalau tidak cermat satu persatu bisa jadi akan menimbulkan kerancuan dalam usaha menggapai pemahaman penafsiran yang mendekati kebenaran. Kebenaran yang dimanksud di sini adalah kebenaran tingkat manusia, karena sejatinya hakikat kebenaran adalah milik-Nya....


Beberapa penyebutan Terminologi cinta dalam Al-Qur’an paling tidak ada delapan kata, pada postingan kali ini akan kita telisik satu persatu sampai empat saja, kemudian empat selanjutnya bisa di dapat atau menunggu posting selanjutnya. Adapun empat terminologi cinta itu adalah sebagai berikut :

1. MAWADDAH

Cinta dengan menggunakan kalimat mawaddah dimaksudkan jenis cinta yang menggebu-nggebu, membara dan “ngggemesi”. Orang yang memiliki cinta tipe “mawaddah” ini biasanya selalu menginginkan kebersamaan, berduaan, enggan berpisah dan ingin selalu memuaskan dahaga cintanya sepanjang waktu. Di dalam Al-Qur’anSurat ar Rum: 21

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
www.akumilikmu.net
2. RAHMAH

Suatu ketika cinta kasih dan sayang dalam dinyatakan oleh Al-Qur’an dengan menggunakan kata Ar-rahmah (CINTA KASIH ), cinta tipe ini melukiskan cinta yang penuh kelembutan, kasih sayang, rela berkorban, siap memberi perlindungan. Orang yang memiliki cinta jenis ini berani berkorban demi orang yang dicintai, mendahulukan cintanya daripada kepentingan cinta dirinya sendiri. Termasuk dalam cinta yang dibahasakan dengan ar-rahmah adalah cinta yang berhubungan dengan pertalian darah.

Al-Qur’an menggunakan kata kerabat dengan istilah dzawil arham, yakni orang orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, tempat janin di mana mendapat kasih sayang juga dinamakan dengan rahim, istilah lain dengan menggunakan kata rahmah juga dipakai istilah menyambung tali cinta kasih sayang terhadap hubungan darah misalnya SILATURRAHIIM artinya menyambung TALI KASIH SAYANG


3. MAIL

Cinta yang dibahasakan dengan mail (condong) adalah cinta yang bersifat sementara, temporal, membara sehingga mengambil perhatian lebih hingga hal lain cenderung terabaikan. Cinta jenis ini disebut oleh Al-Qur’an dalam konteks poligami, ketika seseorang jatuh hati berlebihan kepada pasangan yang lebih muda. Al-Qur’ansurat An-Nisa [4]: 129

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا.

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

4. SYAGHAFA

Cinta juga dibahasakan Al-Qur’an dengan menggunakan kata saghafa, adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil, dan memabukkan. Orang yang sedang dimabuk cinta ini bisa seperti gila dalam tanda kutip.
Lupa diri dan hampir hampir kehilangan kesadaran terhadap apa yang dilakukan, dalam hal ini Al-Qur’an memberikan contoh model ini seperti halnya cintanya Zulaikha kepada Nabi Yusuf as. Seperti tersebut didalam Al-Qur’an surat Yusuf [12]: 30


وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.

Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya ( kepadanya ), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."


5. Kulfah

Cinta menggunakan kata kulfah dipergunakan dalam terminologi cinta yang disertai kesadaran untuk mendidik kepada hal hal yang dipandang positif meski sulit, seperti kecintaan orang tua kepada anaknya menyuruh mandi, gosok gigi, membersihkan kamar tidur, atau menyuruh belajar dan lain sebagainya. Jenis cinta menggunakan kulfah ini biasanya dipakai oleh Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Dalam Al-Qur’an surat al Baqarah[2] : 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya & ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. …”

6. Ra’fah

Ra’fah mempunyai arti kasih sayang yang dalam hingga mengalahkan norma kebenaran, misalnya karena kasihan kepada pasangan hingga tidak membangunkan sholat, membelanya meskipun salah dan seterusnya. Terminologi cinta menggunakan ra’fah ini dipakai ketika membicarakan, karena kecintaannya terhadap sesuatu hingga berbuat sesuatu tidak adil, contoh dalam kasus hukuman bagi pezina, terdapat dalam al Al-Qur’ansurat An-Nuur[24]: 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ.

Perempuan yang berzina & laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, & janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

7. Shobwah

Yaitu cinta buta, cinta yang mendorong pemiliknya ber-prilaku menyimpang tidak sanggup mengelak darinya. Al-Qur’an. Al-Qur’an menggunakan term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdo’a agar dipisahkan dengan Zulaikha yang selalu menggodanya (mohon dimasukkan ke dalam penjara), sebab lama-kelamaan akan tergelincir ke dalam perbuatan yang tidak penting atau dengan kata lain tindakan tanpa pikiran. Allah berfirman dalam Al-Qur’ansurat Yusuf[12]: 33

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ.

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) & tentulah aku termasuk orang-orang yang tidak tahu"

8. Syauq
Syauq yang berarti rindu, term ini bukan dari Al-Qur’an tetapi dijumpai dalam hadits, yang berkaitan dengan surat al Ankabut: 5

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kalimat rindu yang menggunakan syauq itu kemudian diungkapkan dengan do’a mas’tsur yang berbunyi waas’aluka ladzzata an nadhori ila wajhika wa as syauqa ila liqaika (aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah-Mu & nikmatnya kerinduan berjumpa denganmu




sumber : www.terminologiquran.blogspot.com